Hukum

Asa Mengakhiri Pandemi dari Vaksin di Dunia

tampak-ampul-dengan-bnt162b2-isi-kandidat-vaksin-covid-19-yang_201112152514-912.jpg


Berbagai negara telah menyelesaikan uji klinis tahap tiga vaksin Covid-19.

TERDEPAN.id, JAKARTA — Masyarakat dunia mulai mendapatkan harapan baru dikarenakan berita mengenai pengujian vaksin-vaksin Covid-19 dari berbagai negara yang telah menyelesaikan uji klinis tahap tiga.


Kabar menggembirakan pun bertambah dari perusahaan farmasi dan bioteknologi asal Amerika Serikat, yaitu Pfizer dan Moderna yang merilis berita bahwa vaksin buatannya memiliki keampuhan di atas 95 persen dalam menghalau virus SARS CoV 2 penyebab Covid-19.


Tidak hanya di Amerika, kabar mengenai vaksin yang memiliki keampuhan di atas 90 persen juga datang dari Rusia yaitu Sputnik V yang konon sudah banyak dipesan oleh beberapa negara dunia.


Di China, negara pertama asal wabah Covid-19 yang kini sudah menjalani kehidupan normal karena bebas dari Covid-19 juga tengah menyelesaikan uji klinis tahap akhir pada lebih dari satu produk vaksin.


Di Indonesia sendiri para peneliti dari lembaga dan institusi pendidikan masih berupaya mengembangkan kandidat Vaksin Merah Putih yang ditargetkan bisa menyelesaikan uji klinis sepanjang 2021 dan diproduksi pada akhir tahun depan.

BACA JUGA :  Menkopolhukam: Pancasila Tetap Lima Sila dalam RUU BPIP

 


Pada laporan terbarunya yang telah menyelesaikan uji klinis tahap tiga, vaksin buatan Pfizer diklaim memiliki keampuhan menghalau virus Covid-19 hingga 95 persen. Angka ini meningkat dari laporan sebelumnya yang mengatakan tingkat efikasi atau keampuhan vaksin mencapai 90 persen. Sementara beberapa penelitian dan pengembangan vaksin di negara lain baru melaporkan efikasi vaksin mencapai 60 persen.


Namun vaksin buatan Pfizer yang bekerja sama dengan Biontech ini memiliki kelemahan yaitu harus disimpan di suhu minus 70 derajat Celsius yang mana harus disimpan di alat khusus. Ketahanan vaksin tersebut pun mengharuskan proses pendistribusian dengan menjaga suhu sedingin tersebut. Praktis, vaksin ini dinilai akan terkendala jika harus didistribusikan pada negara-negara dengan sistem layanan kesehatannya masih rendah.

BACA JUGA :  Polri Barter Buron dengan AS


Sementara vaksin buatan Moderna yang diklaim ampuh menangkal Covid-19 hingga 94 persen lebih bandel dalam ketahanannya yaitu hanya perlu di simpan di suhu 2 hingga 7 derajat celcius dan mampu bertahan selama 30 hari. Bahkan vaksin buatan Moderna bisa bertahan selama enam bulan apabila disimpan dalam suhu minus 20 derajat Celsius.


Tidak hanya soal keampuhan vaksin Moderna dan Pfizer ini yang memberikan harapan akan kekebalan tinggi terhadap penyakit Covid-19, namun juga potensi distribusi vaksin dalam jumlah massal. Hal itu lantaran pembuatan vaksin Moderna dan Pfizer menggunakan platform messengger RNA (mRNA).


Platform mRNA ini merupakan teknologi terbaru dalam pembuatan vaksin dengan basis sintesis molekul dari virus SARS CoV 2. Wakil Presiden dan Kepala Departemen Epidemiologi Sanofi Juhaeri Muchtar dalam acara diskusi beberapa waktu lalu mengatakan teknologi vaksin seperti inilah yang paling menjanjikan dari yang lain.


 

sumber : Antara





Sumber

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Ke Atas