Houthi Klaim Serang Jizan Sebagai Balasan atas Gempuran Hodeidah
Ketegangan antara milisi Houthi Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi kembali memanas. Pada Sabtu malam (25/7), Houthi mengumumkan bahwa mereka telah menembakkan sejumlah rudal ke wilayah Jizan, Arab ...
Ketegangan antara milisi Houthi Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi kembali memanas. Pada Sabtu malam (25/7), Houthi mengumumkan bahwa mereka telah menembakkan sejumlah rudal ke wilayah Jizan, Arab Saudi, sebagai respons langsung atas serangkaian serangan udara yang menghantam kota pelabuhan strategis Hodeidah. Klaim ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun, mengancam stabilitas di Semenanjung Arab bagian selatan.
Menurut pernyataan juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Sare'e, serangan ke Jizan menyasar bandara regional dan fasilitas militer yang diklaim digunakan oleh koalisi Saudi untuk melancarkan operasi ke Yaman. "Ini adalah balasan atas kejahatan agresi yang terus berlanjut terhadap rakyat kami, terutama pembantaian di Hodeidah," ujar Sare'e dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi Al-Masirah, jaringan yang dikelola Houthi. Belum ada laporan independen yang memverifikasi kerusakan atau korban di pihak Saudi, namun sumber militer di Riyadh membenarkan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebuah objek di atas Jizan.
Hodeidah Diguncang Serangan Udara Beruntun
Klaim serangan balasan ini muncul setelah Provinsi Hodeidah, khususnya wilayah Distrik Ad-Durayhimi dan kawasan sekitar pelabuhan, menjadi sasaran bombardir intensif oleh pesawat-pesawat koalisi Saudi. Saksi mata melaporkan bahwa dalam 48 jam terakhir, puluhan serangan udara menghantam berbagai titik, menimbulkan kerusakan pada infrastruktur sipil dan memicu kepanikan warga. Otoritas kesehatan yang berafiliasi dengan Houthi menyebutkan jumlah korban tewas dan luka-luka masih terus bertambah, namun angka pasti belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Pelabuhan Hodeidah sendiri merupakan jalur vital bagi masuknya bantuan kemanusiaan ke Yaman utara. Serangan yang meningkat di sana menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan organisasi internasional. Sebelumnya, Perjanjian Stockholm 2018 menetapkan gencatan senjata di kawasan Hodeidah, namun kesepakatan itu terus dilanggar oleh kedua belah pihak. Serangan terkini mempertegas rapuhnya proses perdamaian yang sudah lama mandek.
Konstruksi Serangan dan Teknologi Rudal Houthi
Serangan ke Jizan bukanlah yang pertama, tetapi kali ini terjadi dalam konteks yang mengindikasikan peningkatan kemampuan teknologi kelompok Houthi. Analis militer menduga bahwa rudal yang digunakan merupakan jenis Quds-2 atau Badr-F, varian rudal jelajah yang dirakit secara lokal dengan bantuan teknologi dari Iran. Kemampuan rudal ini untuk mencapai target di kedalaman wilayah Saudi, meskipun sering diintersepsi, tetap menjadi ancaman serius. Koalisi Saudi menyatakan bahwa proporsi intersepsi mereka mendekati 90%, namun serangan tetap memicu gangguan di bandara dan kawasan industri.
Jizan, yang terletak dekat perbatasan Yaman, merupakan pusat ekonomi penting bagi Arab Saudi. Serangan berulang ke wilayah ini telah berdampak pada aktivitas penerbangan dan investasi. Pasca klaim serangan terbaru, dilaporkan bahwa operasi di Bandara Internasional Jizan sempat dihentikan sementara sebagai langkah keamanan, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari otoritas penerbangan Saudi.
Reaksi Regional dan Internasional
Meningkatnya serangan balasan Houthi menuai kecaman dari sejumlah negara dan organisasi internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui juru bicaranya, mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. "Eskalasi ini hanya akan memperburuk penderitaan rakyat Yaman yang sudah menghadapi krisis kemanusiaan terparah di dunia," bunyi pernyataan PBB. Sementara itu, koalisi pimpinan Saudi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait klaim Houthi, namun biasanya Riyadh menegaskan haknya untuk mempertahankan wilayahnya dan akan melanjutkan operasi hingga Houthi menerima solusi politik yang diakui secara internasional.
Analis dari lembaga pemikir Middle East Institute menilai bahwa pola serangan balasan seperti ini telah menjadi strategi Houthi untuk menekan Saudi agar mengurangi intensitas serangan udara dan membuka negosiasi. "Houthi mencoba menciptakan rasa tidak aman di dalam negeri Saudi, memaksa Riyadh untuk mempertimbangkan biaya politik dan ekonomi dari perang yang berkepanjangan," ujar seorang analis. Sementara itu, warga sipil di kedua sisi perbatasan terus hidup dalam bayang-bayang ancaman serangan dadakan.
Krisis Kemanusiaan yang Kian Dalam
Konflik Yaman, yang kini memasuki tahun keenam, telah mengakibatkan krisis kemanusiaan akut. Data PBB menunjukkan sekitar 24 juta orang—atau 80% populasi—membutuhkan bantuan darurat. Serangan di sekitar Hodeidah, yang merupakan gerbang masuknya 70% pasokan pangan dan obat-obatan ke Yaman utara, dikhawatirkan akan memperburuk kelaparan dan penyakit. Organisasi seperti World Food Programme (WFP) dan UNICEF telah berulang kali memperingatkan bahwa peperangan sekitar pelabuhan dapat mengganggu rantai pasok bantuan, menjerumuskan lebih banyak anak ke dalam kondisi malnutrisi akut.
Sementara itu, ribuan keluarga di Hodeidah dilaporkan mengungsi ke daerah-daerah yang dianggap lebih aman. Tim medis di lapangan, yang sebagian besar berasal dari LSM internasional, berjuang untuk memberikan pertolongan di tengah situasi keamanan yang terus memburuk. "Rumah sakit penuh, dan kami kehabisan obat-obatan esensial," kata seorang relawan lokal melalui sambungan telepon. Dunia internasional, yang saat ini terbelah fokusnya oleh berbagai krisis global, kembali diingatkan akan tragedi kemanusiaan di Yaman yang seolah tak berkesudahan.
Comments (0)