Digital

Ketergantungan berlebihan membuat teknologi digital jadi bumerang

Ketergantungan berlebihan membuat teknologi digital jadi bumerang



Jadi, kita harus bisa membedakan bagaimana menggunakan teknologi digital secara produktif atau tidak

Palangka Raya (ANTARA) – Seorang Enterpreneur asal Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Eunike Fersa menilai keberadaan teknologi dapat menjadi bumerang atau merugikan diri sendiri, apabila dalam menggunakan atau memanfaatkannya menjadi ketergantungan secara berlebihan.

“Kalau bisa evaluasi ke diri sendiri, apakah betul teknologi digital mendukung untuk benar-benar produktif, atau justru produktivitas menjadi terhambat akibat teknologi digital itu,” katanya di Palangka Raya, Selasa.

Baca juga: Meutya Hafid: Tingkat digitalisasi dan inovasi Indonesia masih rendah

Penilaian itu disampaikan Eunike saat menjadi Key Opinion Leader Kecakapan Digital di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital bertema Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital.

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran itu mencontohkan, seseorang bisa empat sampai lima jam melihat-lihat media sosial, baik itu instagram, facebook ataupun lainnya. Sementara dari melihat-lihat itu, tidak begitu berdampak pada peningkatan karir, penghasilan, ataupun lainnya.

BACA JUGA :  BWF rilis kalender turnamen para badminton 2021

Baca juga: Literasi Digital sebagai langkah mitigasi hoaks dan disinformasi

Dia mengatakan, apabila hal itu terjadi, maka secara tidak langsung orang tersebut tertipu dan banyak membuang-buang waktu. Sebab, hampir setiap jam rebahan di dalam rumah sembari bermain-main dengan telepon pintar, tanpa ada manfaat yang bisa didapat, bahkan menjadi tidak produktif.

“Jadi, kita harus bisa membedakan bagaimana menggunakan teknologi digital secara produktif atau tidak,” kata Eunike.

Baca juga: Pengguna media sosial diharap bisa terapkan empati saat berkomentar

Meski begitu, ia tetap mengingatkansekalipun tidak rebahan dan selalu keluar rumah, termasuk bekerja sampai pinggang sakit, bukan berarti dapat dikatakan produktif secara optimal. Itu merupakan pemahaman yang kurang tepat di era pesatnya kemajuan teknologi digital.

BACA JUGA :  Pengguna smartphone 5G di Korea Selatan capai 16 juta

Dia mengatakan sekarang ini bagaimana persoalan sulit, dapat diselesaikan secara mudah dan cepat dengan memanfaatkan teknologi, serta tetap memperhatikan kualitas. Hal itulah yang dapat dinyatakan produktif secara optimal.

“Sekarang mari evaluasi, apakah pemanfaatan teknologi digital yang telah di riset dan dibuat para ahli untuk mempermudah manusia, atau justru menjadikan budaknya,” kata Eunike.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital yang dilaksanakan di Palangka Raya itu, turut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya sekaligus mantan Wali Kota Palangka Raya dua periode Riban Satia, Civitas Akademika FMIPA Universitas Palangka Raya Made Dirgantara, Indonesia Idol Nowela, serta lainnya.

Pewarta: Kasriadi/Jaya W Manurung
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021



Sumber
Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Ke Atas