Kim Yo Jong Ngamuk, Sebut Seruan ASEAN 'Bodoh dan Mimpi Liar'
Pyongyang kembali mengeluarkan kecaman pedas terhadap negara-negara di kawasan, kali ini menyasar Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang mendesak denuklirisasi semenanjung Korea. Adik pe...
Pyongyang kembali mengeluarkan kecaman pedas terhadap negara-negara di kawasan, kali ini menyasar Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang mendesak denuklirisasi semenanjung Korea. Adik perempuan pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Departemen Propaganda dan Agitasi Partai Buruh, melontarkan kata-kata keras yang menyebut seruan dari blok Asia Tenggara itu sebagai sesuatu yang "bodoh" dan hanya merupakan "mimpi liar".
Desakan ASEAN dan Respons Menohok Pyongyang
Pernyataan resmi ASEAN yang dikeluarkan baru-baru ini, yang isinya menyerukan perlucutan senjata nuklir di Semenanjung Korea, rupanya memicu amarah istana Pyongyang. Setelah bertahun-tahun menjadi sasaran kecaman dan sanksi, Korea Utara menganggap seruan semacam itu sebagai bentuk intervensi yang tidak dapat diterima. Kim Yo Jong, yang sering menjadi corong sikap resmi negaranya, menegaskan bahwa seruan ASEAN tersebut tidak lebih dari sebuah ilusi yang mengabaikan realitas geopolitik dan hak kedaulatan Korea Utara untuk mempertahankan diri.
"Mereka (ASEAN) terus bersikeras meminta kami melepaskan senjata yang menjadi jaminan kelangsungan sistem kami. Itu adalah mimpi paling liar dan pemikiran yang bodoh," ujar Kim Yo Jong seperti dikutip dari pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA). Ia menambahkan, tuntutan semacam itu hanya akan mendorong Korea Utara untuk semakin memperkuat kapasitas nuklir dan pertahanannya.
Nuklir sebagai Pilar Keamanan Mutlak
Dalam berbagai kesempatan, Korea Utara selalu menempatkan pengembangan senjata nuklir sebagai pilar utama dalam doktrin keamanan nasionalnya. Bagi Pyongyang, nuklir bukan sekadar alat perang, melainkan satu-satunya penjamin eksistensi rezim di tengah apa yang mereka sebut sebagai "kebijakan bermusuhan" dari Amerika Serikat dan sekutunya. Pernyataan Kim Yo Jong kali ini semakin menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk negosiasi selama status nuklir mereka belum diakui secara de facto.
Kim Yo Jong juga menyindir negara-negara ASEAN yang dianggap terlalu mudah mengikuti desakan Washington. "Negara-negara di Asia Tenggara seharusnya lebih bijak membaca situasi. Mereka tidak perlu ikut campur dalam urusan yang tidak mereka pahami," tegasnya. Ia bahkan menyebut bahwa ASEAN seharusnya fokus pada masalah internal mereka sendiri daripada mengeluarkan pernyataan yang tidak berdampak apa pun selain memperkeruh suasana.
Reaksi Kawasan dan Prospek Diplomasi
Belum ada tanggapan resmi dari Sekretariat ASEAN maupun negara-negara anggota atas kecaman tersebut. Namun, sejumlah pengamat menduga bahwa pernyataan Kim Yo Jong ini akan semakin memperlebar jarak antara Korea Utara dan komunitas internasional, termasuk negara-negara yang selama ini memiliki hubungan relatif hangat dengan Pyongyang seperti Vietnam atau Laos.
Diplomasi denuklirisasi di semenanjung Korea sendiri telah lama mandek. Upaya-upaya dialog yang terjadi pada tahun 2018 hingga 2019, termasuk pertemuan bersejarah antarpemimpin Korea dan antara Kim Jong Un dengan Presiden AS waktu itu, Donald Trump, tidak menghasilkan kesepakatan yang konkret. Kini, dengan tensi regional yang meningkat dan intensitas uji coba rudal Korea Utara yang terus bertambah, pernyataan seperti yang dilontarkan Kim Yo Jong menjadi sinyal kuat bahwa Pyongyang tidak berniat mengubah arah kebijakan strategisnya.
Sikap keras Korea Utara ini juga dipandang sebagai pesan kepada pemerintahan baru di Washington maupun Seoul yang mungkin mencoba merangkul kembali Pyongyang ke meja perundingan. Dengan lantang, Kim Yo Jong telah menutup celah untuk pembicaraan apa pun yang menyinggung pengurangan atau penghapusan senjata nuklir. "Kami tidak akan mengemis negosiasi. Kekuatan nuklir kami akan menjadi semakin kuat seiring waktu," pungkasnya.
Dampak Ekonomi dan Keamanan di Asia Tenggara
Meski jaraknya ribuan kilometer, eskalasi retorika Korea Utara tetap berpotensi menimbulkan gelombang ketidakpastian di kawasan Asia Tenggara. Rangkaian uji coba rudal balistik Korea Utara seringkali mengganggu penerbangan komersial dan aktivitas maritim di sekitar Laut Jepang dan Pasifik Barat, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan negara-negara ASEAN. Selain itu, aliansi keamanan yang rumit di Asia Timur dapat menciprat ke stabilitas regional secara lebih luas.
Pernyataan terbaru dari Kim Yo Jong juga menjadi ujian bagi sentralitas ASEAN dalam arsitektur keamanan kawasan. Desakan agar semenanjung Korea bebas nuklir merupakan posisi resmi ASEAN yang didukung oleh seluruh anggota. Mendapat reaksi sedemikian keras dari Pyongyang menunjukkan betapa terbatasnya pengaruh blok ini terhadap aktor-aktor yang tidak terikat pada norma-norma regional.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat respons dari pihak Korea Selatan maupun Amerika Serikat terkait komentar Kim Yo Jong. Namun, sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa pernyataan tersebut kemungkinan akan dibahas dalam saluran komunikasi informal yang masih terjalin antara beberapa pihak, meski peluang untuk mengubah sikap Pyongyang dinilai sangat kecil.
Comments (0)