Kim Yo Jong: Seruan Nuklir ASEAN `Bodoh` dan `Mimpi Liar`

Dalam eskalasi retorika yang semakin memanas, Kim Yo Jong, adik kandung Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, melontarkan kecaman pedas terhadap seruan denuklirisasi yang dilayangkan oleh organi...

Kim Yo Jong: Seruan Nuklir ASEAN `Bodoh` dan `Mimpi Liar`

Dalam eskalasi retorika yang semakin memanas, Kim Yo Jong, adik kandung Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, melontarkan kecaman pedas terhadap seruan denuklirisasi yang dilayangkan oleh organisasi kawasan Asia Tenggara, ASEAN. Pernyataan itu disampaikan melalui kantor berita resmi pemerintah, Korean Central News Agency (KCNA), pada hari Selasa. Dengan bahasa yang tidak lazim dalam diplomasi resmi, Kim menyebut desakan agar Pyongyang menghentikan program persenjataan nuklirnya merupakan sebuah “kebodohan” dan “mimpi liar” yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

“Adalah bodoh untuk terus meminta kami melucuti senjata yang justru menjamin kedaulatan dan eksistensi negara kami,” demikian inti pernyataan Kim. Ia juga menambahkan bahwa negara-negara ASEAN tidak memiliki kapasitas moral maupun strategis untuk memaksa Korea Utara mengubah kebijakan pertahanan nasionalnya. Serangan verbal ini menjadi salah satu yang paling keras yang pernah ditujukan Pyongyang kepada blok regional yang selama ini dikenal moderat dan sering menjadi jembatan dialog dengan komunitas internasional.

Konteks Hubungan Korea Utara dan ASEAN

ASEAN secara resmi tidak memutus hubungan dengan Korea Utara. Beberapa negara anggota, seperti Indonesia, Vietnam, dan Laos, masih mempertahankan hubungan diplomatik penuh. Bahkan, di tahun-tahun sebelumnya, ASEAN Regional Forum (ARF) menjadi satu-satunya panggung multilateral di mana pejabat Amerika Serikat dan Korea Utara sempat melakukan kontak informal. Namun, imbauan rutin ASEAN agar Korea Utara kembali ke meja perundingan dan menghentikan pengembangan nuklir tampaknya kini dianggap sebagai intervensi yang tidak bisa ditoleransi.

Seruan terbaru muncul setelah pertemuan para menteri luar negeri ASEAN yang digelar secara tertutup di ibu kota salah satu negara anggota awal bulan ini. Dalam komunike bersama yang tidak dipublikasikan secara luas namun dikonfirmasi oleh beberapa diplomat yang enggan disebutkan namanya, para pemimpin ASEAN menyatakan “keprihatinan mendalam” atas uji coba rudal balistik yang meningkat dan menargetkan perairan dekat Jepang dan Korea Selatan. Mereka juga menekankan pentingnya denuklirisasi yang lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah—sebuah bahasa yang umum dalam resolusi Dewan Keamanan PBB.

Respon Kim Yo Jong tidak sekadar menolak isi seruan tersebut. Ia menyerang legitimasi ASEAN sebagai entitas politik. “Negara-negara itu hanyalah abdi dari kekuatan besar. Mereka berpura-pura peduli pada perdamaian tetapi sebenarnya hanya mengikuti perintah Washington,” ucapnya dengan nada merendahkan. Para pengamat hubungan internasional menilai, pilihan kata “anjing kecil” yang digunakan dalam konteks berbeda di bagian lain pernyataan, sengaja dimaksudkan untuk menyinggung dan memutus harapan akan diplomasi yang selama ini diupayakan oleh negara-negara seperti Vietnam atau Indonesia yang relatif dekat dengan Pyongyang.

Diplomasi yang Semakin Sempit

Serangan terhadap ASEAN ini menandakan semakin menyempitnya ruang bagi diplomasi multijalur terhadap Korea Utara. Sejak negosiasi tingkat tinggi antara Kim Jong Un dan mantan Presiden AS Donald Trump berakhir tanpa kesepakatan pada tahun 2019, Pyongyang praktis menutup pintu untuk dialog apapun yang berkaitan dengan pembatasan persenjataan nuklirnya. Selain itu, Korea Utara telah mengabaikan pendekatan dari pemerintahan Joe Biden maupun, kini, dari pemerintahan penerusnya di Washington. ASEAN, dengan pendekatannya yang lebih lunak, sebelumnya diharapkan bisa memainkan peran pembuka jalan. Namun, pernyataan Kim Yo Jong menegaskan bahwa jalan itu kini resmi ditutup oleh Pyongyang sendiri.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Korea, dalam sebuah analisis yang diterbitkan Selasa pagi waktu Seoul, mengatakan bahwa Korea Utara kini ingin memproyeksikan citra sebagai negara yang sepenuhnya merdeka dari tekanan luar negeri. “Pernyataan ini adalah pesan bahwa tidak ada lagi kawan yang bisa membujuk kami. Bahkan teman seperti ASEAN pun akan kami serang jika mereka menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan narasi kami,” tulis analis tersebut. Ini menunjukkan bahwa Pyongyang semakin percaya diri dengan kemajuan program nuklirnya dan merasa tidak lagi memerlukan legitimasi dari forum-forum regional.

Reaksi Negara-negara Kawasan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, yang merupakan salah satu negara terbesar di ASEAN, menyatakan “keprihatinan mendalam” atas nada dan substansi pernyataan Pyongyang. “Bahasa yang digunakan sangat tidak pantas dalam hubungan antarnegara yang beradab. Seruan kami untuk denuklirisasi adalah demi stabilitas seluruh kawasan, bukan demi kepentingan pihak tertentu,” ujarnya dalam konferensi pers yang diadakan singkat pada hari yang sama.

Sementara itu, Thailand, yang saat ini menjabat sebagai ketua ASEAN untuk beberapa isu tertentu, menyebut kecaman Kim Yo Jong sebagai “tidak konstruktif” dan menegaskan bahwa ASEAN akan terus menyuarakan prinsip perdamaian tanpa memandang tanggapan agresif dari negara manapun. Filipina, yang saat ini memperkuat aliansi pertahanannya dengan Amerika Serikat, bahkan secara eksplisit menyebut Korea Utara sebagai “ancaman serius”. Namun, para diplomat di kawasan Asia Tenggara umumnya memilih untuk tidak memperpanas situasi lebih lanjut, mengingat potensi risiko yang bisa muncul dari meningkatnya ketegangan verbal dengan sebuah negara bersenjata nuklir.

Di Seoul, kantor kepresidenan Korea Selatan menahan diri untuk tidak berkomentar langsung. Seorang pejabat yang tidak mau disebut namanya mengatakan bahwa retorika Kim Yo Jong adalah bagian dari pola lama yang tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Namun di balik layar, kementerian luar negeri Korea Selatan dilaporkan telah menghubungi beberapa mitra kunci ASEAN untuk menyamakan sikap dan menyampaikan dukungan atas posisi blok tersebut.

Korea Utara Tegaskan Kekuatan Nuklirnya

Di bagian akhir pernyataannya, Kim Yo Jong dengan tegas menyatakan bahwa Korea Utara tidak hanya akan mempertahankan statusnya sebagai negara nuklir, tetapi juga akan “terus memodernisasi dan memperkuat kekuatan nuklirnya di semua lini.” Ini adalah ancaman langsung yang mengisyaratkan kemungkinan uji coba baru dalam waktu dekat. Para pengamat militer memperkirakan bahwa Pyongyang mungkin tengah mempersiapkan uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) atau bahkan uji coba nuklir bawah tanah ketujuh, yang akan menjadi yang pertama sejak tahun 2017.

Profesor studi keamanan dari Australian National University menyebut perkembangan ini sebagai pukulan telak bagi arsitektur keamanan di Asia-Pasifik. “ASEAN selama ini menjadi suara norma dan nilai perdamaian yang konsisten. Kini ketika suara itu diserang secara langsung dengan bahasa kasar, kita memasuki babak baru dimana norma multilateralisme sedang terkikis,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa negara-negara Asia Tenggara harus bersiap dengan skenario terburuk, termasuk potensi peningkatan uji coba senjata nuklir dan rudal yang akan memicu respons militer dari Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.

Dengan pernyataan ini, Kim Yo Jong kembali membuktikan perannya sebagai “wajah keras” rezim keluarga Kim yang kejam. Meskipun bukan pemimpin tertinggi, kata-katanya memiliki bobot politik yang besar dan kerap menjadi sinyal awal arah kebijakan Pyongyang. Bagi ASEAN, ini adalah tamparan diplomatik yang sulit untuk diabaikan dan menjadi ujian solidaritas di antara negara-negara anggotanya yang memiliki pandangan beragam soal cara menghadapi Korea Utara. Yang jelas, bagi Kim Yo Jong dan para pemimpin di Pyongyang, seruan denuklirisasi apapun dari belahan dunia manapun—termasuk dari kawasan yang dulu ramah—hanyalah sebuah mimpi liar yang akan terus mereka tentang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User