Ekonomi

Kliring Berjangka Catat Peningkatan Laba Bersih Rp 50,345 M

053520600-1588602746-830-556.jpg


Kinerja baik Kliring Berjangka pada 2019 didukung kinerja industri.

TERDEPAN.id, JAKARTA — PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau KBI merilis pendapatan laba bersih (setelah pajak) sebesar Rp 50,345 miliar atau mencapai 183 persen pada laporan keuangan 2019 (audited) dibandingkan laba bersih (setelah pajak) pada 2018 yaitu sebesar Rp 27,529 miliar.

KBI merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam layanan Kliring Penjaminan dan Penyelesaian Transaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi, Pasar Fisik Komoditas, serta berperan sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang.

Direktur Utama KBI Fajar Wibhiyadi mengatakan pencapaian laba yang didapat KBI tahun 2019 ini cukup menggembirakan. Hal ini dikarenakan situasi ekonomi pada 2019 yang diwarnai dengan agenda politik nasional yaitu pemilu presiden dan pemilu legislatif serta pertumbuhan ekonomi nasional yang boleh dibilang landai.

“KBI telah melewati tahun 2019 dengan kinerja yang baik, dan mampu mencatatkan capaian  laba bersih yang positif,” ujar Fajar dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (29/6).

Dalam skala nasional, kondisi ekonomi Indonesia pada 2019 cukup stabil. Stabilitas perekonomian nasional yang positif terlihat dari tingkat inflasi yang mencapai 2,72 persen, terendah dalam 10 tahun terakhir.

Dari sisi pendapatan, sepanjang 2019, KBI mencatatkan pendapatan sebesar Rp 131 miliar atau sebesar 102,91 persen dari target anggaran tahunan sebesar Rp 127 miliar atau naik 144,96 persen dibanding pendapatan pada 2018.

“Pendapatan tersebut terdiri dari pendapatan operasional sebesar Rp 112 miliar atau 106,91 persen dari anggaran tahunan, dan pendapatan non-operasional sebesar Rp 18 miliar atau sebesar 83,84 persen dari anggaran tahunan,” ucap Fajar.

Fajar menyampaikan naiknya pendapatan KBI tidak lepas dari kinerja industri Perdagangan Berjangka Komoditi yang mengalami pertumbuhan cukup positif. Hal ini tercermin dari volume transaksi multilateral PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) yang mencapai 1.467.371 lot, melewati target yang telah dicanangkan sebesar 1,1 juta lot. Dari volume transaksi tersebut, kontrak berjangka emas berkontribusi 45 persen atau setara dengan 660.893 lot. Selain emas, kopi juga menjadi kontributor terbesar volume transaksi dengan porsi 29 persen atau 430.837 lot, yang diikuti dengan transaksi olein dengan porsi 23 persen atau sekitar 336.124 lot, dan kakao sebesar 3 persen atau setara 39.517 lot.

Sepanjang 2019, kata Fajar, KBI telah meregistrasi transaksi kontrak berjangka dan derivatif lainnya sebanyak 7.968.762,7 lot, yang terdiri dari produk komoditi primer termasuk Kontrak Berkala Emas (KBE) sebanyak 1.467.371 lot (18,4 persen), indeks sebanyak  624.114,7 lot (7,83 persen), currency sebanyak  767.701,7 lot (9,63 persen), komoditi SPA sebanyak 5.084.240,3 lot (63,80 persen), Kontrak single stock sebanyak 25.190 lot (0,32 persen), dan untuk Kontrak Penyalur Amanat Luar Negeri (PALN) sebanyak 145 lot.

Dengan demikian komposisi produk didominasi oleh kontrak Bilateral-SPA, yaitu produk indeks, produk currency, serta komoditi SPA, kontrak single stock yang secara keseluruhan mencapai 6.501.246,7 lot atau 81,58 persen dari total kontrak yang diregistrasi (termasuk transaksi kontrak single stock) dan mencapai 6.476.056,7 lot atau 81,27 persen (tidak termasuk  transaksi kontrak single stock).

Dalam posisi sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang, sepanjang tahun 2019 KBI telah telah menatausahakan Resi Gudang sebanyak 444 Resi Gudang dengan total volume sebesar 11.864.352 ton dan nilai transaksi sebesar Rp 113.378.230.050. Selain itu, dari Kegiatan Transaksi Pasar Fisik Timah Murni Batangan, sepanjang tahun 2019 KBI telah meregistrasikan dan mengkliringkan transaksi Pasar Fisik Timah Batangan  sebesar 27.183,41 ton.

Fajar memperkirakan kondisi perekonomian global ke depan masih penuh dengan ketidakpastian dan cenderung melambat, apalagi saat ini Indonesia sedang dilanda wabah Covid-19, yang tentu akan memberikan dampak kepada dunia usaha. Namun KBI tetap optimistis sektor perdagangan komoditas berjangka memiliki potensi untuk berkembang sangat baik.

“Industri perdagangan berjangka komoditi Indonesia pada tahun depan akan tumbuh lebih baik seiring dengan kontrak di bursa yang semakin inovatif dan menarik bagi investor. Sektor ekonomi akan terganggu Covid-19, namun kami masih optimistis kinerja akan tumbuh positif di 2020,” kata Fajar menambahkan.





Sumber

BACA JUGA :  Mandiri Sekuritas Dorong Investor Lokal Berinvestasi ORI18
Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Ke Atas