Kubu Raya — RSUD Tuan Besar Syarif Idrus Perkuat Akses Disabilitas

Kubu Raya, Kalimantan Barat — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tuan Besar Syarif Idrus yang berlokasi di kawasan terpencil Kabupaten Kubu Raya kini menjadi s

Kubu Raya — RSUD Tuan Besar Syarif Idrus Perkuat Akses Disabilitas

Kubu Raya, Kalimantan Barat — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tuan Besar Syarif Idrus yang berlokasi di kawasan terpencil Kabupaten Kubu Raya kini menjadi sorotan setelah masuk dalam program Quick Win Kementerian Kesehatan. Rumah sakit yang berstatus sebagai fasilitas kesehatan rujukan di wilayah perbatasan ini tengah melakukan transformasi menyeluruh untuk menjamin aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya kesadaran akan hak kesehatan yang setara dan dorongan regulasi inklusif yang semakin kuat.

Dalam kunjungan Liputan6.com pada Jumat (6/2/2026), sejumlah fasilitas baru terlihat telah terpasang. Jalur pemandu di lantai untuk tuna netra, ramp berstandar kemiringan 7 derajat, pegangan tangan di koridor, hingga toilet khusus disabilitas dengan pintu geser sudah mulai difungsikan. Direktur RSUD Tuan Besar Syarif Idrus, dr. Handoko Sutrisno, mengungkapkan bahwa sebelumnya rumah sakit ini nyaris tidak memiliki akses ramah disabilitas. “Dulu pasien dengan kursi roda harus diangkat secara manual untuk masuk ke poli karena semua pintu memiliki anak tangga. Sekarang kami sudah ubah total,” ujarnya.

Program Quick Win sendiri merupakan inisiatif percepatan pembangunan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). RSUD ini menjadi salah satu prioritas mengingat lokasinya yang sulit dijangkau dan minim fasilitas dasar. Total anggaran untuk peningkatan akses disabilitas mencapai Rp2,3 miliar yang berasal dari APBN dan APBD. Dana tersebut digunakan untuk renovasi fisik, pengadaan alat bantu, serta pelatihan staf.

Tantangan Akses Disabilitas di RS Terpencil

Menurut data Dinas Sosial Kubu Raya, terdapat setidaknya 1.245 penyandang disabilitas yang tercatat di wilayah administrasi rumah sakit. Sebelum renovasi, hanya 12 persen dari mereka yang mampu mengakses layanan tanpa kesulitan berarti. Sisanya kerap menunda pemeriksaan atau terpaksa dirujuk ke pusat kota dengan biaya transportasi delapan kali lipat lebih mahal. “Jarak dari kampung saya ke sini 43 kilometer, tapi sebelum ada ramp, saya perlu dibopong tiga orang untuk masuk,” cerita Sutris (54), penyandang paraplegia asal Desa Sungai Ambawang.

Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Maria Goretti, menjelaskan bahwa hambatan utama bukan hanya infrastruktur. Minimnya tenaga medis yang terlatih dalam bahasa isyarat dan penanganan pasien disabilitas intelektual menjadi kendala yang tak kalah pelik. “Kami butuh setidaknya 15 tenaga kesehatan dengan pelatihan inklusif tambahan. Saat ini baru ada 3 orang,” katanya. “Ini bukan sekadar fisik bangunan, tapi juga kesadaran dan kapasitas SDM,” tambah Maria.

Program Quick Win dan Peningkatan Fasilitas

Intervensi Quick Win di RSUD ini dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama menyasar infrastruktur dasar seperti ramp, jalur pemandu, dan toilet. Tahap kedua fokus pada pengadaan alat kesehatan adaptif, termasuk meja periksa yang bisa diatur ketinggiannya, timbangan kursi roda, dan aplikasi pendaftaran daring yang kompatibel dengan pembaca layar. Tahap ketiga adalah pelatihan berkelanjutan dan pembentukan unit layanan disabilitas.

Aspek Sebelum Program Quick Win Setelah Program Quick Win
Jumlah ramp standar 0 6 titik
Toilet khusus disabilitas 1 (tidak standar) 5 unit
Jalur pemandu lantai Tidak ada 127 meter
Staf terlatih bahasa isyarat 0 3 orang
Alat kesehatan adaptif 0 9 jenis

Dalam kurun waktu dua bulan pasca-renovasi, tingkat kunjungan pasien disabilitas meningkat 68 persen. Data rekam medik menunjukkan bahwa diagnosis penyakit kronis pada populasi ini juga naik, menandakan adanya deteksi dini yang sebelumnya terlewat. “Sebelumnya mereka datang ketika sudah parah. Sekarang akses lebih mudah, jadi kasus terdeteksi lebih awal,” jelas dr. Handoko.

Untuk menjamin keberlanjutan, manajemen RSUD menggandeng organisasi penyandang disabilitas setempat. Forum Komunikasi Disabilitas Kubu Raya dilibatkan dalam audit akses dan pemberian masukan desain. Ketua forum, Jumadi, menilai pendekatan ini penting. “Jangan sampai pembangunan hanya mengikuti standar teknis tapi tidak sesuai kebutuhan nyata. Kami yang tahu persis di mana letak lubang-lubang itu,” tegasnya.

Dukungan dan Harapan ke Depan

Keberhasilan awal ini mendorong Pemerintah Kabupaten Kubu Raya untuk mereplikasi model serupa di puskesmas-puskesmas terpencil. Bupati Kubu Raya, Melisa Lindawati, menyatakan komitmennya untuk mengalokasikan dana pendamping dari APBD sebesar Rp750 juta per tahun. “Kesehatan inklusif bukan privilege, tapi hak dasar. Kami ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik,” ujarnya.

Dari sisi regulasi, RSUD ini diharapkan segera memenuhi standar akreditasi Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) untuk elemen aksesibilitas. Targetnya, akhir 2026 seluruh area publik rumah sakit sudah mencapai skor aksesibilitas minimum 85 poin. Sementara itu, Kementerian Sosial melalui program Rehabilitasi Sosial ikut menyalurkan alat bantu berupa kursi roda dan kruk adaptif bagi pasien rujukan.

Meski demikian, tantangan geografis belum sepenuhnya teratasi. Jalan menuju rumah sakit masih berupa tanah merah yang becek saat hujan. Ambulans desa yang ada hanya dua unit untuk melayani delapan kecamatan. “Percuma fasilitas bagus kalau pasien nggak bisa sampai sini,” kritik Jumadi. Pemerintah setempat berjanji akan mengintegrasikan perbaikan akses jalan dalam program pembangunan daerah tahun depan.

Dengan masuknya RSUD Tuan Besar Syarif Idrus dalam program Quick Win, optimisme mulai tumbuh di kalangan penyandang disabilitas. Ini menjadi bukti bahwa layanan publik inklusif bisa dimulai dari daerah yang selama ini dianggap pinggiran. Transformasi ini sekaligus menegaskan bahwa aksesibilitas bukan sekadar infrastruktur, melainkan komitmen untuk memanusiakan setiap warga negara.

[SOCIAL_FB]: Kabar baik dari perbatasan! RSUD Tuan Besar Syarif Idrus di Kubu Raya, Kalimantan Barat, kini bertransformasi menjadi rumah sakit yang ramah disabilitas. Dengan dana Rp2,3 miliar dari program Quick Win, rumah sakit terpencil ini menghadirkan ramp standar, jalur pemandu, toilet khusus, dan alat kesehatan adaptif. Kunjungan pasien disabilitas naik 68% dalam dua bulan. Bupati Kubu Raya berkomitmen mengawal keberlanjutan ini hingga ke puskesmas-puskesmas. Inklusivitas bukan hanya di kota besar—semua warga berhak mendapatkan layanan kesehatan yang setara. Simak selengkapnya. [SOCIAL_THREADS]: Di balik hijaunya hutan Kalimantan Barat, ada perjuangan inklusivitas yang sering terlupakan. RSUD Tuan Besar Syarif Idrus di Kubu Raya, rumah sakit terpencil yang sebelumnya nyaris tanpa ramp dan toilet layak untuk penyandang disabilitas, kini mulai berubah. Program Quick Win menyucurkan Rp2,3 miliar—ramp standar, jalur pemandu, alat adaptif, dan tiga tenaga terlatih bahasa isyarat hadir. Hasilnya, kunjungan pasien disabilitas naik 68%. Tapi jalan menuju rumah sakit masih tanah merah, ambulans hanya dua unit. Inklusivitas butuh lebih dari sekadar bangunan—butuh sistem yang adil dari akar hingga ujungnya. #DisabilityRights #QuickWin #KesehatanInklusif

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User