Menag Ajak Umat Jadi Rahmat Semesta, Santri Tuli Buktikan Nyata

JAKARTA, Terdepan.id — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyerukan pesan mendalam tentang inklusivitas dan peran Islam sebagai rahmat bagi seluruh ala

Menag Ajak Umat Jadi Rahmat Semesta, Santri Tuli Buktikan Nyata

JAKARTA, Terdepan.id — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyerukan pesan mendalam tentang inklusivitas dan peran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, saat memberikan sambutan pada peringatan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal, Senin (15/6/2026). Seruan ini menemukan wujud konkretnya dalam potret perjuangan para santri penyandang disabilitas tunarungu di Jakarta yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mendalami dan mengajarkan Al-Qur'an.

Pesan Inklusivitas dari Mimbar Istiqlal

Dalam sambutannya yang khidmat di hadapan ribuan jemaah yang memadati Masjid Istiqlal, Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa semangat Tahun Baru Islam harus dimaknai sebagai momentum transformasi diri menuju masyarakat yang lebih berkeadilan. Beliau mengajak seluruh elemen umat untuk menjadikan nilai-nilai hijrah sebagai fondasi dalam membangun peradaban yang memuliakan keberagaman, termasuk di dalamnya memberikan ruang dan akses setara bagi penyandang disabilitas untuk beribadah dan belajar.

“Hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tetapi perubahan paradigma. Bagaimana kita sebagai umat Islam bisa benar-benar menjadi rahmatan lil alamin, menjadi penebar kasih sayang bagi semua makhluk, termasuk mereka yang seringkali terpinggirkan karena kondisi fisiknya. Masjid, mushala, dan pesantren harus menjadi ruang yang ramah bagi semua,” tegas Menag dalam sambutannya.

Peringatan 1 Muharam 1448 H di Masjid Istiqlal tahun ini mengangkat tema besar tentang penguatan moderasi beragama dan kepedulian sosial. Kehadiran ribuan jemaah dari berbagai latar belakang menjadi bukti bahwa semangat persaudaraan Islam tetap kokoh. Menag menyoroti pentingnya akses pendidikan agama yang inklusif sebagai salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang berkeadaban.

Potret Nyata di Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah

Seruan Menag tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Di sudut kota Jakarta, sebuah potret inspiratif terabadikan pada Kamis (21/3/2024), ketika seorang santri penyandang disabilitas tunarungu di Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah dengan penuh kesabaran mengajari seorang anak tunarungu lainnya untuk mengaji. Momen ini meneguhkan bahwa Al-Qur'an dapat menyentuh setiap jiwa tanpa terkecuali, melampaui batasan indra pendengaran dan lisan.

Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah menjadi pelopor dalam pendidikan Al-Qur'an bagi penyandang disabilitas. Pesantren ini mengembangkan metode pengajaran adaptif yang unik, menggabungkan bahasa isyarat, gerakan tangan, dan ilustrasi visual untuk membantu para santri dengan gangguan pendengaran dan wicara dalam menghafal serta memahami ayat-ayat suci Al-Qur'an.

“Kami meyakini bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang bisa diakses oleh siapa saja. Tantangan terberat adalah mengubah pola pikir masyarakat bahwa disabilitas adalah ketidakmampuan. Di sini, kami membuktikan bahwa mereka mampu, bahkan bisa menjadi pengajar bagi sesamanya,” urai salah seorang pembina pesantren yang enggan disebutkan namanya.

Sinkronisasi Kebijakan dan Realitas Lapangan

Pernyataan Menag Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal sejalan dengan kebutuhan mendasar yang tercermin dari aktivitas di pondok pesantren tersebut. Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir terus berupaya memperkuat program inklusivitas di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan di bawah naungannya. Mulai dari penyediaan sarana prasarana ramah difabel, pelatihan guru dan ustadz/ustadzah tentang metode pengajaran inklusif, hingga penyusunan kurikulum adaptif untuk madrasah dan pesantren.

Adapun poin-poin kunci yang menjadi perhatian bersama antara pemerintah dan komunitas pesantren difabel antara lain:

  • Pengembangan Kurikulum Khusus: Modul pembelajaran Al-Qur'an berbasis visual dan kinestetik yang disesuaikan dengan kebutuhan santri tunarungu agar dapat menghafal dan memahami makna ayat dengan optimal.
  • Pelatihan Sumber Daya Manusia: Program upgrading kompetensi bagi para ustadz dan ustadzah dalam menguasai bahasa isyarat dan teknik pengajaran komunikasi total untuk memfasilitasi santri dengan gangguan pendengaran.
  • Aksesibilitas Sarana Ibadah: Standarisasi masjid dan mushala dengan panduan visual (seperti layar teks dan pencahayaan isyarat) agar jemaah tuna rungu dapat mengikuti rangkaian ibadah secara khusyuk dan mandiri.
  • Bantuan Operasional Afirmatif: Alokasi dana stimulan dan beasiswa khusus bagi pesantren penyelenggara program tahfidz difabel untuk menjamin keberlangsungan dan peningkatan mutu pendidikan inklusif.

Sinergitas antara kebijakan Kementerian Agama dengan semangat komunitas akar rumput seperti Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah menjadi bukti nyata bahwa Islam hadir sebagai solusi atas persoalan kemanusiaan. Peringatan 1 Muharam 1448 H tak hanya seremoni keagamaan semata, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali sejauh mana umat Islam telah menjalankan misi profetiknya sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam tanpa diskriminasi. Para santri tunarungu yang mengajar mengaji itu telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berbagi cahaya Al-Qur’an kepada sesama.

Dengan komitmen berkelanjutan dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat sipil, diharapkan akan semakin banyak lahir pesantren-pesantren inklusif yang mampu mengakomodasi seluruh kalangan difabel. Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menandai langkah baru menuju ekosistem pendidikan agama yang benar-benar ramah bagi semua.

[SOCIAL_TWEET]: Keterbatasan bukan penghalang untuk belajar Al-Qur’an. Di Pesantren Difabel Jakarta, santri tunarungu mengajar sesamanya mengaji, selaras dengan pesan inklusivitas Menag Nasaruddin Umar di Istiqlal. Islam benar-benar rahmat untuk semua. #TahunBaruIslam #Inklusivitas #SantriDifabel #1Muharam[SOCIAL_TG]: 🕌✨ Dari Istiqlal ke Pesantren Difabel: Pesan Menag tentang Islam yang inklusif terbukti nyata. Santri tunarungu saling mengajar mengaji, keren banget! Yuk, simak liputannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User