Mentan Amran Warning Jangan Keliru: Telur dan Ayam Dibeli Langsung dari Peternak

Harga ayam broiler dan telur ayam ras di tingkat peternak kembali ambruk dalam sepekan terakhir, memicu kepanikan di kalangan peternak mandiri yang mengaku merugi hingga belasan juta rupiah per siklus...

Mentan Amran Warning Jangan Keliru: Telur dan Ayam Dibeli Langsung dari Peternak

Harga ayam broiler dan telur ayam ras di tingkat peternak kembali ambruk dalam sepekan terakhir, memicu kepanikan di kalangan peternak mandiri yang mengaku merugi hingga belasan juta rupiah per siklus. Menanggapi kondisi itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman angkat bicara dan memberi peringatan agar semua pihak tidak salah menafsir langkah pemerintah. Ia menegaskan, pemerintah tengah menjalankan mekanisme pembelian langsung dari kandang—bukan sekadar intervensi pasar biasa—melalui tim Satuan Pelaksana Pengadaan Gabah (SPPG) yang kini diperluas mandatnya ke komoditas peternakan.

Akar Masalah: Suplai Melimpah, Serapan Melemah

Amran menjelaskan bahwa jatuhnya harga tidak bisa dilepaskan dari akumulasi produksi yang tak terkendali selama tiga bulan terakhir, bersamaan dengan melemahnya daya beli masyarakat pasca-Lebaran. Data Kementerian Pertanian mencatat produksi ayam ras pedaging nasional pada April–Mei 2026 mencapai 385 ribu ton, naik 12 persen dibanding periode sama tahun lalu. Sementara itu, serapan pasar ritel dan hotel-restoran-katering justru terkontraksi 7–9 persen. Kelebihan pasokan sekitar 28–32 ribu ton per bulan menekan harga di tingkat peternak hingga menyentuh Rp14.500 per kilogram untuk bobot hidup, jauh di bawah harga pokok produksi yang berkisar Rp18.000–Rp19.500 per kilogram. Situasi serupa terjadi pada telur ayam ras yang terpaksa dilego peternak di harga Rp16.000 per kilogram, padahal ongkos pakan dan operasionalnya mencapai Rp20.000 per kilogram.

“Ini bukan soal permainan spekulan semata. Struktur suplai kita memang sedang tinggi. Jadi jangan keliru memvonis bahwa pemerintah diam saja,” ujar Amran dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu. Ia menambahkan, kebijakan impor jagung pakan yang sempat longgar di awal tahun lalu turut mendorong percepatan budidaya, namun serapan domestik gagal mengimbangi. Pemerintah, katanya, kini mengoreksi arah: tidak hanya fokus pada hulu, tetapi juga pada pengamanan harga jual peternak.

SPPG Belanja Langsung, Bukan Operasi Pasar Biasa

Langkah yang diambil Kementerian Pertanian lewat SPPG berbeda dengan operasi pasar yang biasanya memotong rantai distribusi di tengah. Kali ini, tim pengadaan langsung mendatangi kandang-kandang peternak di sentra produksi seperti Blitar, Sukabumi, Tangerang, dan Minahasa. Ayam dan telur dibeli secara tunai dengan harga yang disepakati Rp2.000–Rp3.000 di atas harga pasar saat itu. Komoditas itu kemudian dialirkan ke gudang penyangga, didistribusikan ke pasar Induk Cipinang, serta masuk dalam program bantuan pangan untuk 1,3 juta keluarga rawan stunting di 12 provinsi.

“Ibarat kita memotong langsung ujung kabel yang korsleting. Kalau beli dari pedagang pengumpul, selisih harga tidak sampai ke peternak. Ini kenapa kami turun dengan SPPG, armada, dan kas daerah,” terang Amran. Sampai pekan kedua Juni 2026, tercatat 1.840 ton daging ayam dan 2.100 ton telur telah terserap dari kandang peternak plasma dan mandiri. Volume itu memang masih mini dibanding total produksi mingguan, tetapi sinyal bahwa negara hadir sebagai penyerap kelas menengah mulai terasa di sejumlah daerah. Harga di tingkat peternak perlahan merangkak naik 3–5 persen dalam tiga hari terakhir, meskipun masih di bawah titik impas.

Warning Jangan Keliru: Bukan Intervensi Merusak Pasar

Poin paling keras yang disampaikan Amran adalah peringatan agar publik, pengusaha pakan, dan pedagang besar tidak mengartikan kebijakan ini sebagai bentuk pasar tertutup atau kembali ke rezim harga tatap. “Saya warning: jangan ada yang keliru. Ini bukan kita mau menguasai pasar, bukan ingin mematikan pedagang. Kita hanya ingin peternak bisa bernapas. Setelah harga normal, SPPG akan mundur secara bertahap,” tegasnya.

Pernyataan itu merespons kekhawatiran Asosiasi Pedagang Unggas Indonesia yang menilai pembelian langsung pemerintah dapat mematikan jalur distribusi konvensional. Amran memastikan bahwa volume yang diserap SPPG dibatasi maksimal 15 persen dari total produksi mingguan, sehingga pasar bebas tetap punya ruang. Selain itu, telur dan ayam yang dibeli tidak akan dijual eceran langsung ke konsumen akhir, melainkan dihibridkan ke program gizi nasional agar tidak mengganggu harga jual pedagang pasar.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Bagi peternak, setiap kenaikan harga Rp1.000 saja sudah sangat berarti. Saat ini, banyak dari mereka yang menahan panen dua hingga tiga hari hanya untuk menunggu momentum harga membaik, meski risikonya beban pakan bertambah. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, menyatakan pihaknya telah menginstruksikan dinas di daerah untuk mempercepat validasi data peternak yang berhak masuk skema beli langsung, sekaligus memangkas birokrasi syarat administrasi.

“Kita harap akhir Juni sudah bisa normal. Tapi itu tetap bergantung daya beli dan laju pemotongan di rumah potong unggas,” ujarnya. Sejumlah peternak di Blitar yang dihubungi mengaku lega, tetapi berharap pemerintah konsisten. “Ini napas buat kami. Asal jangan hanya dua minggu lalu ditinggal,” kata Sukri, peternak plasma dengan populasi 15.000 ekor. Pemerintah berjanji skema ini berjalan minimal sampai harga kembali ke Rp20.000 per kilogram untuk ayam dan Rp22.000 untuk telur di tingkat peternak. Apakah target itu realistis dalam waktu dekat? Semua mata kini tertuju pada keberanian SPPG menjaga komitmen dan pada pasar yang perlahan namun pasti diharapkan menemukan titik keseimbangan baru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User