Digital

“Sustainability”, kiat buat dan pertahankan “start-up” saat pandemi

IMG_6722.jpg


Bagaimana kita mampu me-manage setidaknya 3-6 bulan ke depan dengan asumsi bahwa situasi pandemi belum pulih secepatnya

Jakarta (ANTARA) – Memulai usaha rintisan (start-up) di kala pandemi bukanlah hal yang tidak mungkin, asalkan mampu memproyeksikan bisnis yang dirintis dapat berlangsung lama (sustainable), menurut Executive Director UBS Riaz Hyder.

“Saat ini memang periode yang menantang. Namun, investor akan lebih mempertimbangkan soal keberlangsungan (sustainability) dari start-up tersebut,” kata Hyder dalam webinar “Gojek Xcelerate Batch 4 Demo Day”, Rabu.

Baca juga: Menuju normal baru, ini persiapan penting bagi pelaku “start-up”

Baca juga: Hal yang harus diperhatikan “startup” agar bisa bertahan saat pandemi

Selain itu, baik bagi start-up yang akan maupun telah menjalankan bisnisnya, perlu memperhatikan dan mengatur aliran dana (cashflow) perusahaan dengan bijak setidaknya untuk kurun waktu 3-6 bulan mendatang.

BACA JUGA :  Zoom tambah durasi panggilan gratis di musim libur

Cashflow sangatlah penting. Bagaimana kita mampu me-manage setidaknya 3-6 bulan ke depan dengan asumsi bahwa situasi pandemi belum pulih secepatnya,” lanjut Hyder.

Sementara VP of Creative Labs Gojek, Bahari CK, menambahkan, start-up juga harus mampu kreatif dan inovatif dalam beradaptasi di situasi pandemi maupun normal baru (new normal).

Langkah pertama adalah dengan berempati dan mendengarkan kebutuhan konsumen. Cara ini dapat dilakukan dengan berinteraksi dengan konsumen baik secara langsung maupun lewat media sosial.

Reach out lewat social media atau interview personal tentang kebutuhan mereka di tengah pandemi,” kata Bahari.

BACA JUGA :  Zoom ungkap China minta blokir percakapan peringatan tragedi Tiananmen

Dengan mengerti kebutuhan dan kemauan konsumen, lanjut dia, perusahaan bisa menggali ide dan inovasi apa yang dapat ditawarkan kepada pelanggan.

Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan nilai (value) lebih kepada produk dari brand atau bisnis yang tengah dirintis.

“Tambah value produk dan brand kita, apa yang membedakan kita dengan kompetitor. Melakukan kolaborasi juga penting,” ujar Bahari.

Baca juga: Qlue wakili Indonesia di kompetisi startup dunia XTC 2020

Baca juga: Menjamurnya startup energi bersih dukung pengembangan EBT di Tanah Air

Baca juga: Akademisi: Startup harus kuasai teknologi baru

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Sumber

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Ke Atas