Tertinggal 5G, Indonesia Dorong Akselerasi ke 6G
Ketika sebagian besar negara di Asia Tenggara sudah berlomba memasang infrastruktur 5G, Indonesia justru masih berkutat dengan tantangan dasar konektivitas generasi kelima. Data lapangan menunjukkan p...
Ketika sebagian besar negara di Asia Tenggara sudah berlomba memasang infrastruktur 5G, Indonesia justru masih berkutat dengan tantangan dasar konektivitas generasi kelima. Data lapangan menunjukkan penetrasi 5G di Tanah Air belum mampu menembus angka dua digit, sebuah ironi bagi negeri yang digadang-gadang menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di kawasan. Fakta ini mendorong pemangku kepentingan, terutama Mastel (Masyarakat Telematika Indonesia), untuk menggulirkan wacana yang lebih radikal: mengapa harus menunggu tertatih-tatih dengan 5G jika kita bisa langsung merancang lompatan ke 6G?
Sebuah seminar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang digelar baru-baru ini menjadi panggung bagi para ahli untuk menyusun strategi agar Indonesia tidak kembali tertinggal dalam gelombang disrupsi berikutnya. Ibarat seseorang yang belum menyelesaikan pembangunan jalan tol, namun sudah harus merancang rel kereta cepat, situasi ini menuntut pendekatan yang tidak biasa.
Mengapa 5G Sulit Merangkak di Indonesia?
Untuk memahami urgensi wacana 6G, kita perlu menengok sejenak akar masalah adopsi 5G yang seret. Salah satu batu sandungan utama adalah ketersediaan spektrum frekuensi. Frekuensi 3,5 GHz yang menjadi tulang punggung 5G global di Indonesia masih digunakan untuk layanan satelit, sehingga operator seluler terpaksa menggunakan pita frekuensi yang kurang optimal. Alhasil, kecepatan dan kapasitas 5G di sini tidak bisa semaksimal di negara-negara seperti Singapura atau Korea Selatan.
Faktor lain adalah biaya investasi yang tinggi berbanding terbalik dengan tingkat adopsi perangkat pengguna. Harga ponsel pintar berkemampuan 5G masih relatif mahal bagi mayoritas penduduk. Ditambah lagi, belum adanya aplikasi pembunuh (killer app) yang secara spesifik membutuhkan jaringan 5G membuat konsumen tidak merasakan urgensi untuk beralih. “Kami seperti menjual mobil balap Formula 1 di jalanan yang masih berlubang. Masyarakat tentu bertanya, buat apa?” ujar seorang analis telekomunikasi yang hadir dalam seminar tersebut.
Lompatan ke 6G: Bukan Sekadar Ganti Angka
Generasi keenam atau 6G bukanlah sekadar peningkatan kecepatan dari 5G. Jika 5G menjanjikan latensi satu milidetik, 6G digadang-gadang mampu mendorong latensi hingga di bawah 100 mikrodetik serta kecepatan puncak mencapai 1 terabit per detik (Tbps). Ini seribu kali lebih cepat ketimbang 5G. Namun, yang lebih revolusioner adalah integrasi teknologi artificial intelligence (AI) langsung ke dalam arsitektur jaringannya. Jaringan 6G tidak hanya mengirim data, tetapi juga mampu “berpikir” dan mengalokasikan sumber daya secara otonom.
Bagi Indonesia, menyiapkan diri untuk 6G berarti kita bisa melompati siklus teknologi yang sudah tertinggal. Strategi leapfrogging ini pernah berhasil ketika telepon seluler langsung meledak di Indonesia tanpa harus melalui penetrasi telepon kabel rumah yang mendalam. “Ibarat kita tidak perlu membangun semua infrastruktur 5G dulu, asalkan kita siap secara regulasi dan ekosistem,” jelas seorang pembicara dari kalangan regulator.
Peta Jalan Butuh Kolaborasi Lintas Sektor
Seminar TIK yang diselenggarakan oleh Mastel menekankan bahwa kunci utama bukanlah memilih antara 5G atau 6G, melainkan membangun ekosistem riset dan pengembangan yang memungkinkan keduanya berjalan paralel. Dokumen strategi nasional yang dirumuskan mencakup tiga pilar: pembebasan spektrum pita tinggi (sub-THz) untuk pengujian 6G, investasi pada talenta digital yang memahami teknologi terahertz dan AI, serta harmonisasi regulasi agar uji coba 6G tidak terbentur aturan yang saat ini masih berbasis teknologi 4G.
Dari sisi industri, operator seluler diajak untuk tidak hanya fokus pada pengembalian investasi 4G dan 5G saat ini. Mereka perlu mulai mengalokasikan dana riset untuk prototipe 6G, terutama dalam mendukung visi Internet of Senses atau internet yang dapat mengirimkan pengalaman sensorik penuh. Bayangkan, dalam ekosistem 6G, konferensi video tidak hanya menghadirkan gambar dan suara, tetapi juga sensasi sentuhan atau aroma.
Namun, tantangan terbesar tetap pada kesiapan infrastruktur. Jaringan 6G memerlukan sel-sel kecil yang jauh lebih rapat dari 5G, memicu kebutuhan baru akan serat optik dan pusat data tepi (edge data center). Tanpa penyelesaian fondasi konektivitas yang merata, lompatan ke 6G dikhawatirkan hanya akan menciptakan kesenjangan digital yang lebih tajam antara kota metropolitan dan daerah terpencil.
Langkah Mastel menggulirkan diskusi 6G sejak dini bisa jadi merupakan alarm yang tepat. Di tengah penetrasi 5G yang masih di bawah 10 persen, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semakin cepat kita memetakan ekosistem 6G, semakin besar peluang untuk menjadi pemimpin, bukan lagi konsumen, dalam revolusi teknologi berikutnya.
Comments (0)