Ekonomi

Virgin Galactic Jual Tiket ke Luar Angkasa, Harganya?

pendiri-virgin-group-sir-richard-branson-menyampaikan-ungkapan_201108015110-332.jpg


Virgin Galactic akan memulai uji terbang ke luar angkasa pada akhir November.

TERDEPAN.id, NEW MEXICO – Perusahaan pesawat luar angkasa Virgin Galactic akan memulai uji coba proyek penerbangan antariksa perdana secara komersial untuk manusia akhir bulan ini. Pesawat akan lepas landas dari Spaceport America di New Mexico.

Perusahaan optimistis bisa meraup penghasilan hingga satu miliar dolar AS atau sekitar Rp 14 triliun dari proyek tersebut setiap tahunnya. CEO Virgin Galactic Robert Branson menargetkan, perjalanan komersial ke luar angkasa bisa dimulai pada 2021.

“Spaceport tidak hanya menjadi mesin ekonomi yang unggul dan pertama di New Mexico, tetapi juga memiliki daya tarik yang besar di dunia,” kata Michael Colglazier, Kepala Eksekutif Virgin Galactic, seperti dikutip dari laman Fox Business pada Sabtu (7/11).

BACA JUGA :  Kemenkeu Yakin SBN Tak Pengaruhi Likuiditas Perbankan

Colglazier mengatakan, bandara antariksanya akan mampu mengoperasikan 400 penerbangan per tahun dan membawa ribuan orang ke luar angkasa. “Ini mewujudkan tujuan kami dalam membuka ruang baru untuk mengubah dunia,” kata dia.

Meskipun uji terbang baru akan dilakukan bulan ini, namun perusahaan telah mengirim karyawannya ke luar angkasa dari lokasi lain. Menurut Colglazier, penerbangan perdana bulan ini akan dikomandoi oleh dua orang pilot. Setelah penerbangan itu, Virgin Galactic juga berencana mengirimkan penerbangan kedua bertenaga roket dengan kru kabin lengkap untuk mendampingi pilot.


Untuk perjalanan ke luar angkasa ini, Virgin Galactic telah menjual 600 tiket kepada miliarder dari 60 negara berbeda. Untuk satu tiket dihargai 250 ribu dolar AS atau sekitar Rp 3,5 miliar.

BACA JUGA :  Cegah perdagangan ilegal, Singapura hancurkan 9 ton gading gajah

Belum lama ini, perusahaan juga meluncurkan kabin pesawat luar angkasa yang akan digunakan untuk astronot ‘orang awam’. Ini juga diklaim sebagai proyek perdana di dunia.

Kendati begitu, perusahaan sepertinya terlalu “membakar uang” untuk merealisasikan proyek luar angkasa ini. Dalam laporan keuangannya yang dirilis Jumat, perusahaan mengalami kerugian bersih sebesar 77 juta dolar AS atau sekitar Rp 1 triliun pada kuartal ketiga dan 63 juta dolar AS atau sekitar Rp 938 triliun pada kuartal kedua.

Colglazier memperkirakan hal itu akan segera berubah. “Saya senang dengan strategi kami untuk memonetisasi dan meningkatkan bisnis ini. Setelah 15 tahun pengembangan dan pengujian, kami berada di puncak pencapaian kelayakan teknologi dan ini menandai titik perubahan dalam perjalanan perusahaan,” kata dia.





Sumber

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Ke Atas