Life Style

Cegah Diabetes, Jangan Tunggu Gejala

alat-bernama-fast-bisa-dimanfaatkan-penderita-diabetes-tipe-2_200401143300-321.jpg


Ketika sudah ada gejala diabetes, bisa jadi tubuh sudah alami komplikasi.

TERDEPAN.id, JAKARTA — Diabetes menjadi penyakit sebagai penyebab kematian tertinggi setelah strok dan jantung. Faktor risiko diabetes mencakup genetik dan perilaku gaya hidup. Diabetes bisa dicegah dengan pegendalian tepat sejak awal.

Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, mengatakan bahwa faktor risiko genetik, mengandung pengertian yang luas. Jika orang tua tidak mengidap diabetes, orang tetap ada risiko terkena apabila kakek/nenek juga pernah punya riwayat penyakit tersebut.

“Itu yang dinamakan faktor risiko,” kata Sidartawan dalam World Diabetes Day 2020 bertema “Bersama Diabetasol, Sayangi Dia”, Selasa (3/11).

Di samping faktor genetik, ada faktor gaya hidup yang patut diperhatikan. seperti berat badan, obesitas, kehamilan dengan ukuran bayi besar, dan kolesterol. Faktor-faktor itulah yang harus dikumpulkan dan diberi skor.

BACA JUGA :  Realme Pede Buka Gerai di Tengah Pandemi

Jika skor makin tinggi, maka kemungkinan terkena juga tinggi. Sidartawan menyarankan agar masyarakat melakukan pemeriksaan atau pencegahan tanpa menunggu gejala.

Lakukan pemeriksaan gula darah sesegera mungkin. Karena jika melakukan pengecekan sesudah ada gejala, maka itu sudah terlambat dan bisa jadi sudah ada komplikasi.

“Cek lebih cepat, jangan ada gejala baru berobat, jadinya diabetes sudah lama dan komplikasi,” ujar Sidartawan yang juga Executive Board Member IDF Western Pacific Region (2009-2011 dan 2012-2015).

Banyak makan, minum, dan banyak kencing merupakan gejala diabetes yang mudah dikenali. Diabetes tidak berdiri sendiri, umumnya (sekitar 30 persen) sudah disertai komplikasi, baik itu masalah tekanan darah, kolestrol, dan atau penyakit komorbid lainnya.

BACA JUGA :  Kate Spade Luncurkan Signature Collection

Sidartawan menjelaskan, diabetes bisa dicegah dan dilawan dengan gaya hidup tepat. Perhatikan pola makan sehat dan gizi seimbang, lakukan aktivitas fisik dan olahraga, dan setop merokok.

Belakangan, jumlah diabetesi bukan semakin sedikit, namun justru bertambah banyak. Bahkan, diabetesi dengan komplikasinya diprediksi bisa mencapai 600 sampai 700 juta pada 2045.

Tunghadi Indra, Director of Special Needs and Healthy Lifestyle Nutrition, KALBE Nutritionals mengatakan, edukasi terhadap masyarakat dirasa semakin penting. Pihaknya melakukan edukasi masif berkelanjutan, baik secara daring maupun offline, terutama lewat laman web Diabetasol.com.id.


“Angka kematian masih tinggi. Agar semakin banyak yang tercerahkan, baik bagi diabetesi maupun masyarakat pada umumnya, semua juga harus mendukung mereka,” kata Indra.





Sumber

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Ke Atas