Kisah Irgun: Kelompok Yahudi Garis Keras yang Melumpuhkan Inggris
Di tengah memudarnya pijakan Kerajaan Inggris pasca-Perang Dunia II, sebuah gerakan bawah tanah di Palestina menjadi mimpi buruk bagi otoritas kolonial. Bukan negara musuh atau pasukan konvensional, m...
Di tengah memudarnya pijakan Kerajaan Inggris pasca-Perang Dunia II, sebuah gerakan bawah tanah di Palestina menjadi mimpi buruk bagi otoritas kolonial. Bukan negara musuh atau pasukan konvensional, melainkan sebuah kelompok paramiliter Yahudi bernama Irgun yang dengan taktik brutal dan sistematis berhasil membuat London kewalahan. Sejarah mencatat, perlawanan dari organisasi garis keras ini turut mempercepat akhir mandat Inggris dan membuka jalan bagi berdirinya negara baru di kawasan Timur Tengah.
Bibit Radikalisme dari Kekecewaan Politik
Akar Irgun tertanam pada tahun 1931, ketika sejumlah anggota Haganah—organisasi pertahanan utama komunitas Yahudi—memisahkan diri karena menilai pendekatan moderat tidak cukup melindungi kepentingan Zionis. Mereka membentuk Irgun Zvai Leumi, atau Organisasi Militer Nasional, di bawah pengaruh ideologi Revisionis Maximalis yang digagas Ze'ev Jabotinsky. Prinsipnya tegas: negara Yahudi di kedua sisi Sungai Yordan harus dicapai melalui perlawanan bersenjata, bukan diplomasi. Inggris, yang memegang mandat sejak 1920, dipandang bukan sebagai pelindung melainkan penghalang.
Namun Irgun baru benar-benar menjadi kekuatan penghancur ketika kepemimpinan diambil alih oleh Menachem Begin pada 1943. Pria yang kelak menjadi Perdana Menteri Israel ini membawa strategi perang perkotaan dan propaganda yang terukur. Di bawah komandonya, Irgun mendeklarasikan pemberontakan terbuka terhadap otoritas Inggris pada Februari 1944, dengan sasaran instalasi militer, gedung pemerintahan, dan jalur logistik. Langkah ini mengejutkan London yang sebelumnya meremehkan ancaman kelompok bawah tanah.
Operasi Brutal yang Mengguncang Kekaisaran
Puncak aksi Irgun terjadi pada 22 Juli 1946, saat militan menyusup ke sayap selatan Hotel King David di Yerusalem, yang menjadi markas pusat administrasi militer dan sipil Inggris. Bahan peledak berkekuatan lebih dari 350 kilogram yang disamarkan dalam wadah susu besar-besaran meruntuhkan sebagian bangunan dan menewaskan 91 orang—termasuk warga Inggris, Arab, dan Yahudi. Dunia terhenyak. Rangkaian telepon peringatan yang diklaim Irgun tak cukup mencegah bencana. Serangan ini dipandang sebagai pukulan psikologis terbesar terhadap Kerajaan Inggris sejak kemerdekaan Irlandia.
Irgun tak berhenti di sana. Pada 4 Mei 1947, mereka melancarkan pembobolan penjara Akko, membebaskan 41 tahanan Yahudi sekaligus mempermalukan sistem keamanan penjara terkuat Inggris di kawasan itu. Aksi ini direncanakan dengan detil militer, melibatkan pengalihan perhatian dan peledakan dinding sel. Tapi yang paling membakar emosi publik Inggris adalah Peristiwa Serjeants: dua sersan Inggris, Clifford Martin dan Mervyn Paice, diculik dan digantung pada Juli 1947 sebagai balasan atas eksekusi tiga militan Irgun. Mayat mereka dipasang perangkap ranjau, memicu kemarahan dan aksi anti-Yahudi di kota-kota Inggris. London mulai kehilangan kendali psikologis atas mandatnya.
Mengapa Inggris Tak Berdaya Menghadapi Irgun?
Kehabisan akal menghadapi Irgun bukan semata karena kekuatan militer. Pasukan Inggris di Palestina saat puncak kerusuhan berjumlah hampir 100.000 personel, jauh melampaui jumlah militan yang hanya sekitar 4.000 orang. Namun sifat perang gerilya asimetris membuat keunggulan konvensional tak berarti. Irgun berbaur dalam populasi sipil, menyerang secara cepat dan menghilang. Mereka membangun sistem sel bawah tanah yang kedap infiltrasi, memanfaatkan simpati sebagian komunitas Yahudi yang marah akibat kebijakan imigrasi ketat Inggris terhadap korban Holocaust.
Tekanan eksternal juga menghimpit London. Publik Amerika Serikat, terutama komunitas Yahudi berpengaruh, mengecam keras tindakan represif Inggris yang justru membangkitkan dukungan terhadap gerakan bawah tanah. Di saat bersamaan, Inggris tengah memulihkan ekonomi pascaperang dan menghadapi gelombang dekolonisasi global. Mempertahankan puluhan ribu tentara di Palestina dengan biaya selangit—sementara korban berjatuhan—menjadi beban politik tak tertahankan bagi kabinet Clement Attlee. Pada 1947, Inggris akhirnya menyerahkan masalah Palestina ke PBB, secara de facto mengakui bahwa mereka tak mampu lagi mengendalikan situasi.
Warisan Kelam dan Kontroversi Abadi
Irgun resmi dibubarkan pada September 1948, setelah unit-unitnya diintegrasikan ke dalam Angkatan Pertahanan Israel yang baru lahir. Banyak bekas komandannya, termasuk Begin, menjadi tokoh politik penting. Namun label "teroris" yang disematkan Inggris—dan bahkan oleh sejumlah tokoh Yahudi seperti David Ben-Gurion yang menyebut mereka "musuh rakyat Yahudi"—melekat hingga kini. Serangan terhadap warga sipil Arab seperti di Desa Deir Yassin pada April 1948, yang dilakukan bersama kelompok Stern Gang, menewaskan lebih dari 100 orang dan semakin mencoreng reputasi kelompok ini.
Terlepas dari kontroversi, tak bisa dipungkiri bahwa kampanye Irgun secara signifikan mempengaruhi kalkulasi strategis Inggris. Taktik perlawanan ekstrem yang mereka terapkan—serangan infrastruktur, penculikan pejabat, dan peperangan psikologis—menunjukkan betapa sebuah kekuatan kecil mampu mendesak mundur imperium raksasa di era modern. Pelajaran dari kisah ini terus bergema dalam studi perlawanan asimetris dan politik Timur Tengah kontemporer.
Comments (0)