Motorola Bangkit Kembali, Kuasai Pasar Ponsel Lipat di AS dan Amerika Latin
Lanskap industri telepon pintar sedang mengalami pergeseran yang tak terduga. Motorola, nama legendaris yang sempat meredup selama hampir satu dekade, kini bangkit dari mati suri dan mengejutkan para ...
Lanskap industri telepon pintar sedang mengalami pergeseran yang tak terduga. Motorola, nama legendaris yang sempat meredup selama hampir satu dekade, kini bangkit dari mati suri dan mengejutkan para raksasa teknologi. Data terbaru menunjukkan bahwa Motorola berhasil menguasai lebih dari separuh pasar ponsel lipat di Amerika Serikat dan Amerika Latin—menggeser dominasi Samsung dan merangsek di segmen yang belum terjamah Apple.
Fenomena Kebangkitan yang Mengejutkan
Di Amerika Serikat, Motorola kini menguasai 50 persen pangsa pasar ponsel lipat, sementara di Amerika Latin angkanya bahkan lebih tinggi: 55 persen. Ini adalah lonjakan signifikan dari posisi sebelumnya di mana Samsung dengan seri Galaxy Z Fold dan Z Flip begitu dominan. Kebangkitan ini terjadi di tengah tren global ponsel lipat yang terus tumbuh—data IDC mencatat pengiriman ponsel lipat dunia naik lebih dari 40% tahun lalu, mencapai sekitar 22 juta unit.
Motorola, yang pernah menjadi ikon dengan Razr V3 di era 2000-an, kini berhasil menyalakan kembali nostalgia itu lewat lini Motorola Razr lipat terbaru. Model seperti Razr 40 dan Razr 40 Ultra (atau dikenal sebagai Razr+ di AS) sukses memadukan desain lipat vertikal yang ringkas dengan harga yang lebih bersahabat dibanding kompetitor.
Strategi Cerdas di Balik Dominasi
Keberhasilan Motorola tidak terjadi secara kebetulan. Pertama, perusahaan ini memanfaatkan celah harga. Samsung Galaxy Z Flip 5 dibanderol mulai dari US$999 atau sekitar Rp15,5 juta, sementara Motorola Razr 40 bisa didapatkan dengan harga lebih rendah, bahkan di beberapa pasar di bawah US$700. Bagi konsumen yang penasaran dengan ponsel lipat namun enggan merogoh kocek dalam, Motorola menjadi pilihan prime.
Kedua, Motorola fokus pada desain lipat clamshell (lipat vertikal) yang terbukti lebih populer ketimbang model book-style fold. Survei dari Counterpoint Research mengungkapkan bahwa 68% pembeli ponsel lipat memilih tipe clamshell karena portabilitas dan faktor gaya hidup. Di sini Motorola unggul dengan layar luar yang lebih fungsional; Razr 40 Ultra misalnya, memiliki layar sekunder 3,6 inci yang bisa menjalankan aplikasi penuh—fitur yang baru-baru ini diadopsi Samsung pada Galaxy Z Flip 6 tetapi sudah lebih dulu dipopulerkan Motorola.
Ketiga, strategi distribusi yang agresif di Amerika Latin—kawasan dengan populasi muda dan daya beli yang meningkat—membuahkan hasil. Motorola bermitra dengan operator lokal dan menawarkan program tukar tambah yang menarik, sehingga penetrasi pasarnya melonjak.
“Motorola tahu betul bagaimana bermain di pasar sensitif harga. Mereka tidak mencoba menyaingi Apple di segmen premium, melainkan menang di volume dengan produk lipat yang terjangkau,”ujar seorang analis industri dari lembaga riset Canalys yang kami mintai pendapat.
Absennya Apple dan Celah yang Terbuka
Salah satu faktor kunci lainnya adalah absennya Apple dari arena ponsel lipat. Hingga saat ini, raksasa Cupertino itu belum meluncurkan iPhone foldable meskipun berbagai rumor dan paten beredar. Tanpa kehadiran Apple, peta persaingan hanya dikuasai Samsung, Motorola, Huawei, dan pemain asal Tiongkok lainnya seperti Oppo dan Honor. Namun di pasar Amerika Serikat, Huawei dilarang beroperasi, sehingga Samsung dan Motorola menjadi pemain utama. Di sinilah Motorola berhasil mencuri perhatian.
Samsung sempat mendominasi dengan 80% pasar lipat global pada 2021, namun pangsa itu terus tergerus. Di AS, khususnya, Motorola berhasil membalikkan keadaan dengan pendekatan yang lebih muda, segar, dan penuh gaya—kampanye pemasaran mereka menggandeng influencer dan fesyen, menargetkan generasi Z dan milenial yang haus akan perangkat unik.
Kisah Panjang Menuju Puncak Kembali
Kebangkitan Motorola ini juga menandai babak baru dalam sejarah perusahaan yang didirikan pada 1928. Setelah menciptakan ponsel komersial pertama (DynaTAC pada 1983) dan sukses besar dengan Razr V3 yang terjual lebih dari 130 juta unit, Motorola sempat kehilangan arah di era smartphone. Akuisisi oleh Google pada 2011 dan kemudian dijual ke Lenovo pada 2014 menjadi titik balik. Di bawah naungan Lenovo, Motorola memfokuskan diri pada ponsel kelas menengah dengan stok Android murni, dan kini lini lipat menjadi ujung tombak pemulihan brand.
Dengan strategi yang tepat, Motorola berhasil menjual lebih dari 3 juta unit ponsel lipat sepanjang semester pertama tahun ini di kawasan Amerika saja, menurut estimasi firma riset Omdia. Angka ini melampaui penjualan Samsung di segmen yang sama di wilayah tersebut. Hal ini memicu respons Samsung: mereka dikabarkan akan mempercepat peluncuran Galaxy Z Flip versi terjangkau, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Sementara itu, Apple yang masih bergeming semakin mendapat tekanan untuk segera merilis iPhone lipat, mengingat pasar terus berkembang tanpa kehadirannya.
Tantangan ke Depan dan Peta Persaingan Baru
Meski dominasi Motorola di dua kawasan ini mengesankan, perjalanan masih panjang. Pasar ponsel lipat global sendiri diproyeksikan mencapai 50 juta unit pada 2026, dan Samsung masih memimpin secara global berkat kehadirannya di Asia dan Eropa. Selain itu, Oppo dan Honor juga kian agresif. Namun, untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, Motorola kembali diperhitungkan.
Faktor penentu berikutnya adalah durabilitas dan layanan purna jual. Salah satu keluhan umum pada ponsel lipat adalah ketahanan engsel dan layar. Motorola pada Razr series terbaru mengklaim telah meningkatkan ketahanan hingga 400.000 lipatan (setara pemakaian lebih dari 5 tahun). Jika klaim ini terbukti di lapangan, kepercayaan konsumen akan semakin kokoh.
Kebangkitan Motorola membuktikan bahwa sejarah bisa berulang. Merek yang pernah tertidur panjang kini mengguncang industri, membawa perangkat lipat dari sekadar gadget futuristik menjadi perangkat harian yang lebih merakyat.
“Motorola telah membaca tren dengan sangat baik. Mereka tidak perlu menjadi yang pertama, tapi cukup menjadi yang paling relevan bagi konsumen di titik harga yang tepat,”kata seorang analis dari CCS Insight yang tidak ingin disebutkan namanya. Konsumen pun menjadi pemenang karena persaingan akan mendorong inovasi dan harga yang lebih ramah.
Comments (0)