TNI Gerebek Ladang Ganja 2,5 Hektare di Aceh Besar
Di balik lebatnya perbukitan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berhasil mengungkap ladang ganja
Di balik lebatnya perbukitan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berhasil mengungkap ladang ganja seluas dua setengah hektare pada Sabtu (06/07/2026). Operasi terpadu yang melibatkan 120 personel dari Kodam Iskandar Muda ini merupakan salah satu penemuan terbesar sepanjang 2026, menegaskan bahwa Provinsi Aceh masih menjadi salah satu wilayah rawan peredaran narkotika di Indonesia. Diperkirakan nilai total tanaman ganja yang dimusnahkan mencapai lebih dari Rp3,7 miliar, dengan potensi menyelamatkan sekitar 125.000 pemakai dari jerat narkoba.
Kronologi Penggerebekan
Penggerebekan bermula dari laporan warga yang mencurigai aktivitas tak wajar di area perbukitan yang sulit dijangkau. Setelah melakukan pengintaian selama dua pekan, tim gabungan TNI dan Badan Narkotika Nasional (BNN) bergerak pada dini hari.
“Kami memasuki lokasi sekira pukul 04.30 WIB. Selain ladang terbuka, pelaku juga menyembunyikan pembibitan di bawah rumpun bambu dan di antara tanaman kopi,” ujar Komandan Operasi Letkol Inf. Andika Kusuma di lokasi.
Petugas menemukan tanaman ganja dalam berbagai tahap pertumbuhan—dari bibit setinggi 20 sentimeter hingga tanaman siap panen setinggi dua meter. Sebanyak 23.400 batang ganja dimusnahkan dengan cara dibakar, didahului upacara pemusnahan yang disaksikan aparat desa dan tokoh masyarakat setempat. Tidak ada tersangka yang ditangkap karena diduga pelaku melarikan diri melalui jalur hutan saat mengetahui kehadiran petugas. Namun, TNI menyita sejumlah barang bukti berupa peralatan perkebunan, dua unit tenda, dan 15 kilogram ganja kering yang sudah dikemas siap edar.
Tantangan Medan dan Strategi Pengungkapan
Indrapuri adalah kecamatan yang terletak di lereng pegunungan dengan akses jalan terbatas. Untuk mencapai ladang, personel harus berjalan kaki selama enam jam melewati sungai dan tebing curam. Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Hari Prasetyo, menyebut operasi ini sebagai bukti keseriusan TNI memberantas narkotika meski dihadapkan pada medan ekstrem.
“Kami tidak akan memberi ruang bagi para bandar. Aceh bukan tempat nyaman untuk bisnis narkoba. Ke depan, kami akan memadukan patroli udara dan darat untuk mempersempit pergerakan mereka,” tegasnya dalam konferensi pers di Banda Aceh.
Pengamat keamanan dari Universitas Syiah Kuala, Dr. Teuku Faisal, menilai modus penanaman di tengah tanaman kopi menunjukkan pelaku semakin canggih menghindari deteksi satelit. “Mereka memanfaatkan topografi dan tutupan kanopi. Diperlukan teknologi drone multispektral untuk membedakan ganja dari vegetasi lain,” sarannya.
Data BNN menunjukkan, sepanjang 2026, Aceh menyumbang 42% dari total lahan ganja yang ditemukan di Indonesia. Luas temuan ini menempatkan Indrapuri sebagai ladang terbesar kedua tahun ini setelah penemuan 3 hektare di Gayo Lues pada Januari lalu. Penindakan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir telah menurunkan luas ladang ganja di Aceh sebesar 28% dibanding 2023.
Dampak Sosial dan Langkah Pencegahan
Warga Desa Indrapuri mengaku lega dengan penggerebekan tersebut. Ketua Pemuda Abdul Rahman (34) bercerita,
“Kami sudah lama curiga, tapi takut melapor karena katanya ada oknum yang membekingi. Sekarang TNI datang langsung, kami merasa dilindungi. Semoga gak ada lagi ladang seperti ini.”
Menanggapi kekhawatiran warga, Danrem 012/Teuku Umar, Kolonel Inf. Jamaluddin, memastikan akan membuka posko pengaduan siluman di tiga titik rawan. Pihaknya juga menggandeng Dinas Pertanian untuk memberikan pelatihan budidaya kopi bernilai ekonomi tinggi sebagai alternatif penghasilan bagi masyarakat.
“Pendekatan kami tidak hanya represif. Warga yang dulu mungkin tergiur menanam ganja karena putus asa secara ekonomi, kini kami beri solusi konkret lewat program ketahanan pangan,” paparnya.
Sementara itu, BNN Provinsi Aceh menerjunkan tim rehabilitasi untuk memetakan potensi penyalahgunaan di kalangan pemuda. Kepala BNN Provinsi, Brigjen Pol. Raden Edi, menyatakan bahwa ladang seluas 2,5 hektare ini diduga bagian dari jaringan sindikat Sumatera-Malaysia. “Kami sedang menelusuri aliran dana dan modus penyelundupan. Hasil sementara menunjukkan ganja ini akan dikirim via jalur laut melalui pelabuhan tikus di pesisir timur,” ungkapnya.
Komitmen Nasional Perang terhadap Narkotika
Temuan ini mencuat di tengah gencarnya kampanye nasional 'Aceh Bersinar' (Bersih dari Narkoba) yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Aceh. Penjabat Gubernur Aceh, Dr. H. Marzuki, mengapresiasi langkah TNI dan BNN.
“Ini peringatan keras. Generasi muda jangan sampai diracuni. Kami akan perkuat sanksi bagi pihak yang terbukti melindungi ladang ganja,” ujarnya.
Advokat hak asasi manusia, Rini Anggraini, mengingatkan agar pengungkapan ini tidak hanya berhenti pada pemusnahan tanaman, melainkan juga penindakan terhadap aktor intelektual. “Sering kali penangkapan hanya menyasar petani miskin yang menjadi korban. Pengusutan harus tuntas hingga ke pemodal,” desaknya.
Dengan penggerebekan ini, TNI menegaskan bahwa kolaborasi multi-lembaga dan dukungan masyarakat menjadi kunci memutus rantai pasokan narkoba di wilayah paling ujung barat Indonesia. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pengumuman tersangka baru, namun tim investigasi gabungan terus bekerja mengidentifikasi jaringan yang bertanggung jawab.
[SOCIAL_TWEET]: TNI gempur ladang ganja 2,5 ha di Aceh Besar! 23.400 batang dimusnahkan, nilai Rp3,7 miliar. Sinergi TNI-BNN perangi jaringan narkotika Sumatra-Malaysia. #AcehBersinar #PerangNarkotika[SOCIAL_TG]: 🌿🚫 TNI temukan 2,5 hektare ladang ganja di Aceh! 23.400 batang dibakar. Nilainya gila: Rp3,7 miliar. Info lengkap di sini ⬇️
Comments (0)